Ini hanyalah sebuah permainan sederhana, sesederhana namanya. Sepak bola. Peraturannya juga sangat sederhana, masukkan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan, selanjutnya kita pikirkan sendiri. Sederhana, eh? Pemainnya tidak harus sebelas, dalam hal ini. Kumpulkan beberapa teman dekatmu, bagi jadi dua kelompok, dan bermainlah. Terlalu sederhana.
Namun, jika dimainkan oleh mereka, bahkan hidup pun tidak akan sesimpel yang kita alami.
Ah. Mereka, bermain di bawah terik matahari yang hampir menjejak sore. Beberapa dari mereka duduk di bawah pohon di pinggir lapangan, duduk menonton semua yang bermain. Suara tawa yang berderai dan bersahut-sahutan mengudara dari mulut mereka yang terkadang mengeluarkan celotehan dan celetukan agak nakal ala remaja laki-laki yang baru beranjak dewasa.
Aku hanya tersenyum melihat keceriaan mereka semua, sembari mendekap buku lebih erat. Siang ini memang panas, namun nampaknya hal kecil itu tidak menyurutkan niat mereka bermain bola siang ini. Aku baru saja keluar dari gedung sekolah. Pelajaran tambahan untuk lomba esok hari memang sedikit membuat aku dan dua temanku pulang sedikit terlambat. Memang hal itu membuat kami lelah, namun kami tetap menjalaninya.
Aku masih menatap ke lapangan, mencoba menganalisa siapa saja yang turut bermain di dalam permainan kecil itu. Ada beberapa yang bisa kuanalisa, namun sisanya tidak terlalu jelas. Satu gol bersarang di gawang salah satu tim, membuat tim yang kebobolan itu mengerang kecewa. Ditimpali oleh sorakan bahagia dari tim yang berhasil menjajal bola ke gawang lawan.
Mengamati semua yang terjadi di tengah lapangan di bawah terik itu ternyata memperlambat langkahku untuk mencari angkutan pulang. Aku hanya mendekap bukuku yang cukup berat sembari masih mengamati mereka dari jauh. Seingatku mereka biasa bermain bola saat hari sedang cerah sepulang sekolah. Au tidak tahu dari mana bola itu berasal, mungkin dari ruang olahraga? Aku tidak pernah tahu persis.
Aku segera memalingkan wajahku mengingat udara makin panas dan aku belum mendapat kendaraan untuk pulang. Jadi aku melangkah menjauh, sembari masih mendengar teriakan-teriakan dari arah lapangan. Sepertinya mereka belum akan bubar untuk waktu yang cukup lama.
FIN
Gimana? Cerpennya itu gue bikin sedikit dadakan juga. Gara-gara tadi siang liat di lapangan anak-anak cowo lagi pada maen bola gitu. Wakakak, aneh ya?
Ini hanyalah sebuah permainan sederhana, sesederhana namanya. Sepak bola. Peraturannya juga sangat sederhana, masukkan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan, selanjutnya kita pikirkan sendiri. Sederhana, eh? Pemainnya tidak harus sebelas, dalam hal ini. Kumpulkan beberapa teman dekatmu, bagi jadi dua kelompok, dan bermainlah. Terlalu sederhana.
Namun, jika dimainkan oleh mereka, bahkan hidup pun tidak akan sesimpel yang kita alami.
Ah. Mereka, bermain di bawah terik matahari yang hampir menjejak sore. Beberapa dari mereka duduk di bawah pohon di pinggir lapangan, duduk menonton semua yang bermain. Suara tawa yang berderai dan bersahut-sahutan mengudara dari mulut mereka yang terkadang mengeluarkan celotehan dan celetukan agak nakal ala remaja laki-laki yang baru beranjak dewasa.
Aku hanya tersenyum melihat keceriaan mereka semua, sembari mendekap buku lebih erat. Siang ini memang panas, namun nampaknya hal kecil itu tidak menyurutkan niat mereka bermain bola siang ini. Aku baru saja keluar dari gedung sekolah. Pelajaran tambahan untuk lomba esok hari memang sedikit membuat aku dan dua temanku pulang sedikit terlambat. Memang hal itu membuat kami lelah, namun kami tetap menjalaninya.
Aku masih menatap ke lapangan, mencoba menganalisa siapa saja yang turut bermain di dalam permainan kecil itu. Ada beberapa yang bisa kuanalisa, namun sisanya tidak terlalu jelas. Satu gol bersarang di gawang salah satu tim, membuat tim yang kebobolan itu mengerang kecewa. Ditimpali oleh sorakan bahagia dari tim yang berhasil menjajal bola ke gawang lawan.
Mengamati semua yang terjadi di tengah lapangan di bawah terik itu ternyata memperlambat langkahku untuk mencari angkutan pulang. Aku hanya mendekap bukuku yang cukup berat sembari masih mengamati mereka dari jauh. Seingatku mereka biasa bermain bola saat hari sedang cerah sepulang sekolah. Au tidak tahu dari mana bola itu berasal, mungkin dari ruang olahraga? Aku tidak pernah tahu persis.
Aku segera memalingkan wajahku mengingat udara makin panas dan aku belum mendapat kendaraan untuk pulang. Jadi aku melangkah menjauh, sembari masih mendengar teriakan-teriakan dari arah lapangan. Sepertinya mereka belum akan bubar untuk waktu yang cukup lama.
FIN
Gimana? Cerpennya itu gue bikin sedikit dadakan juga. Gara-gara tadi siang liat di lapangan anak-anak cowo lagi pada maen bola gitu. Wakakak, aneh ya?
Umm, hello there. Welcome to my site. PLEASE do NOT copy-paste ANYTHING in this site to yours, except only for your private archive. Please let me know if you'd like to copy anything from my blog.