Hai. Umm, kali ini aku ingin menceritakan sedikit tentang diriku. Boleh ya? Hei, kalau kau tidak berminat kau boleh saja pergi dari sini. Terserah. Tapi, please, dengarkan ya?
Namaku? Hmm, tidak penting. Lagipula aku tidak memiliki nama. Aku dipanggil sesuka hatimu saja. Aku yatim piatu, kedua orangtuaku meninggal. Aku dipungut dari jalanan oleh seorang gadis kecil yang manis bersama ketiga saudaraku. Sejak itu, hidupku memiliki tujuan. Aku hidup untuk membahagiakan gadis yang sudah menolongku itu. Ketiga saudaraku juga, meski tidak seekstrim yang kulakukan. Aku juga senang bisa menghibur dan kadang membantu majikanku itu.
Hmm, aku tahu yang ada di pikiranmu. Tidak, aku bukan pembantu. Selir, eh? Bukan juga. Aku ini kan cuma... umm, lupakan sajalah. Tidak penting mengetahui seperti apa diriku. Intinya, aku bahagia setiap kali bermain bersama gadis itu.
"Tidak untuk selamanya," kata saudaraku. Aku hanya menggeleng.
"Biarlah meski buat sementara," bantahku. Saudaraku yang lain nimbrung.
"Tapi nanti kita akan dilupakan, ingat, orang-orang tumbuh besar setiap saat dan kala itu terjadi," dia menghela nafas, "kita terancam."
"Tapi kita masih milik mereka hingga saat itu. Aku ingin menikmati setiap saat yang ada sebelum itu."
"Nampaknya kau sangat sayang dengan gadis itu, eh?" timpal saudaraku.
"Dia baik, dan aku yakin dia tidak akan mencampakkan kita," aku masih berkeras.
"Terserah katamu, tapi firasatku bilang bahwa tidak seperti itu akhirnya,"
"Ayolah, Sobaaat. Takkah kau impikan akhir yang bahagia?" bujukku. Dia tampak seperti berpikir.
"Uh, sudahlah. Hentikan debat tidak penting ini. Tak ada gunanya," kata salah seorang saudaraku menyudahi. Kami semua mengangguk dan mulai melakukan aktivitas sendiri-sendiri.
Saat ini aku makan sambil berpikir tentang kata-kata mereka. Ada benarnya juga, sih kata-kata mereka. Tapi sebaiknya aku nikmati saja saat-saat yang tersisa. Lagi pula, aku tidak pernah merasakan aku akan dipisahkan dari gadis itu suatu hari nanti. yang ada hanya perasaan senang karena dipedulikan.
Malangnya, ternyata mereka benar. Saat itu tidak selamanya.
Si gadis yang sudah merawat kami ternyata harus pergi kuliah di luar kota. Yang tersisa hanya adiknya yang senang menjahili kami. Menyiram kami dengan air, memukul kami, dan masih banyak lagi macamnya. Aku dan saudara-saudaraku tidak tahan lagi. Kami melakukan pemberontakan karena sudah muak dengan penderitaan yang selalu kami rasakan.
"Nah? Mana? Adakah yang berlangsung selamanya?" sindir saudaraku. Aku menunduk pasrah.
"Yaa, aku juga tidak menyangka dia akan sejahil itu," belaku. Aku sebenarnya masih shock jadi tidak bisa terlalu banyak komentar.
"Jadi bagaimana? Kita tidak bisa selamanya melawan," kata salah seorang saudaraku yang lain.
"Mungkin kita memang harus terus memberontak," gumamku.
"Dan membuat kita lebih cepat kehilangan tempat tinggal? Sungguh ide yang brilian," ujar saudaraku sinis. Aku mendesis pelan tanda kesal.
"Aku hanya mengusulkan, kalau tidak diterima ya tidak apa-apa juga," aku mulai naik darah. Dia hanya mendengus malas menanggapi.
"Sudahlah, yang penting kita masih memiliki satu sama lain," saudaraku yang paling bijak bertutur menutup pembicaraan. Kami segera bergelung ke tempat tidur masing-masing.
Rumah ini tidak terlalu besar. Menyenangkan, tapi hampa. Terutama setelah gadis penyelamat kami pergi. Kami selalu kebagian tidur di belakang, dekat dapur. Aku biasa bergelung di atas sofa tua bersama salah satu saudaraku. Sementara sisanya ada yang tidur di karpet maupun bergelung di lantai saja.
Aku tidak menyadari bahwa keesokan harinya adalah hari terburuk buat kami.
Saat aku baru bangun dan memutuskan untuk berjemur di teras, aku mendengar percakapan kedua orangtua si gadis penyelamat kami.
"Sebaiknya mereka kita buang, kau tahu ibumu sudah uzur, dia tidak akan tahan," samar kudengar suara seorang pria.
"Tapi Lia masih menyayangi mereka berempat," bantah si wanita. Si pria mengeluh pelan.
"Kau memilih mereka ketimbang ibumu sendiri, eh?" lalu sunyi.
"Nanti siang kita singkirkan mereka," kata si wanita meski ada suara tidak rela di dalam nada suaranya. Si pria menghela nafas lega.
Aku terbelalak dan membatalkan rencanaku berjemur di teras. Aku segera berlari untuk memberitahu saudara-saudaraku. Malang, aku berpapasan dengan si anak laki-laki. Dia menyeringai. harusnya aku takut, tapi kalut menguasai batinku. Aku segera lari melewatinya.
"Bukan waktunya bermain!" ujarku singkat, entah dia mengerti atau tidak. Aku segera menemui saudaraku yang sedang bersantai di dapur.
"Hei, kau tahu! nanti siang kita dibuang! Ke jalanan," kataku panik. Saudaraku yang wanita menangis.
"Aku tidak mau merasakan jalanan lagi," katanya di sela isaknya. Tak beberapa lama seseorang menggiring kami masuk ke mobil. Kami berempat.
Aku tidak tahan lagi tapi masih tidak bisa berbicara. Pria jahat bodoh itu membawa kami ke suatu tempat, jelasnya jauh dari rumah. Sementara si wanita tampak sedikit sedih. Kami menunggu dengan tegang.
Kami merasakan sesuatu mendorong kami semua turun dari mobil. Setelah itu, pintu mobil ditutup. Bersamaan dengan itu aku memandang mata wanita yang sepertinya sedikit berkaca-kaca. Harapanku hancur. Ketiga saudaraku masih terdiam.
Aku hanya bisa mengeong hampa.
____________________________
Selesai. Tolong dengan sanagt jangan ngejiplak dan jangan dicopy. Bilang dulu sama gue. Ini--ini buat something-something yang penting buat gue dan makanya mohon jangan dijiplak. I beg of you please not to copying this text! thanks.
Hai. Umm, kali ini aku ingin menceritakan sedikit tentang diriku. Boleh ya? Hei, kalau kau tidak berminat kau boleh saja pergi dari sini. Terserah. Tapi, please, dengarkan ya?
Namaku? Hmm, tidak penting. Lagipula aku tidak memiliki nama. Aku dipanggil sesuka hatimu saja. Aku yatim piatu, kedua orangtuaku meninggal. Aku dipungut dari jalanan oleh seorang gadis kecil yang manis bersama ketiga saudaraku. Sejak itu, hidupku memiliki tujuan. Aku hidup untuk membahagiakan gadis yang sudah menolongku itu. Ketiga saudaraku juga, meski tidak seekstrim yang kulakukan. Aku juga senang bisa menghibur dan kadang membantu majikanku itu.
Hmm, aku tahu yang ada di pikiranmu. Tidak, aku bukan pembantu. Selir, eh? Bukan juga. Aku ini kan cuma... umm, lupakan sajalah. Tidak penting mengetahui seperti apa diriku. Intinya, aku bahagia setiap kali bermain bersama gadis itu.
"Tidak untuk selamanya," kata saudaraku. Aku hanya menggeleng.
"Biarlah meski buat sementara," bantahku. Saudaraku yang lain nimbrung.
"Tapi nanti kita akan dilupakan, ingat, orang-orang tumbuh besar setiap saat dan kala itu terjadi," dia menghela nafas, "kita terancam."
"Tapi kita masih milik mereka hingga saat itu. Aku ingin menikmati setiap saat yang ada sebelum itu."
"Nampaknya kau sangat sayang dengan gadis itu, eh?" timpal saudaraku.
"Dia baik, dan aku yakin dia tidak akan mencampakkan kita," aku masih berkeras.
"Terserah katamu, tapi firasatku bilang bahwa tidak seperti itu akhirnya,"
"Ayolah, Sobaaat. Takkah kau impikan akhir yang bahagia?" bujukku. Dia tampak seperti berpikir.
"Uh, sudahlah. Hentikan debat tidak penting ini. Tak ada gunanya," kata salah seorang saudaraku menyudahi. Kami semua mengangguk dan mulai melakukan aktivitas sendiri-sendiri.
Saat ini aku makan sambil berpikir tentang kata-kata mereka. Ada benarnya juga, sih kata-kata mereka. Tapi sebaiknya aku nikmati saja saat-saat yang tersisa. Lagi pula, aku tidak pernah merasakan aku akan dipisahkan dari gadis itu suatu hari nanti. yang ada hanya perasaan senang karena dipedulikan.
Malangnya, ternyata mereka benar. Saat itu tidak selamanya.
Si gadis yang sudah merawat kami ternyata harus pergi kuliah di luar kota. Yang tersisa hanya adiknya yang senang menjahili kami. Menyiram kami dengan air, memukul kami, dan masih banyak lagi macamnya. Aku dan saudara-saudaraku tidak tahan lagi. Kami melakukan pemberontakan karena sudah muak dengan penderitaan yang selalu kami rasakan.
"Nah? Mana? Adakah yang berlangsung selamanya?" sindir saudaraku. Aku menunduk pasrah.
"Yaa, aku juga tidak menyangka dia akan sejahil itu," belaku. Aku sebenarnya masih shock jadi tidak bisa terlalu banyak komentar.
"Jadi bagaimana? Kita tidak bisa selamanya melawan," kata salah seorang saudaraku yang lain.
"Mungkin kita memang harus terus memberontak," gumamku.
"Dan membuat kita lebih cepat kehilangan tempat tinggal? Sungguh ide yang brilian," ujar saudaraku sinis. Aku mendesis pelan tanda kesal.
"Aku hanya mengusulkan, kalau tidak diterima ya tidak apa-apa juga," aku mulai naik darah. Dia hanya mendengus malas menanggapi.
"Sudahlah, yang penting kita masih memiliki satu sama lain," saudaraku yang paling bijak bertutur menutup pembicaraan. Kami segera bergelung ke tempat tidur masing-masing.
Rumah ini tidak terlalu besar. Menyenangkan, tapi hampa. Terutama setelah gadis penyelamat kami pergi. Kami selalu kebagian tidur di belakang, dekat dapur. Aku biasa bergelung di atas sofa tua bersama salah satu saudaraku. Sementara sisanya ada yang tidur di karpet maupun bergelung di lantai saja.
Aku tidak menyadari bahwa keesokan harinya adalah hari terburuk buat kami.
Saat aku baru bangun dan memutuskan untuk berjemur di teras, aku mendengar percakapan kedua orangtua si gadis penyelamat kami.
"Sebaiknya mereka kita buang, kau tahu ibumu sudah uzur, dia tidak akan tahan," samar kudengar suara seorang pria.
"Tapi Lia masih menyayangi mereka berempat," bantah si wanita. Si pria mengeluh pelan.
"Kau memilih mereka ketimbang ibumu sendiri, eh?" lalu sunyi.
"Nanti siang kita singkirkan mereka," kata si wanita meski ada suara tidak rela di dalam nada suaranya. Si pria menghela nafas lega.
Aku terbelalak dan membatalkan rencanaku berjemur di teras. Aku segera berlari untuk memberitahu saudara-saudaraku. Malang, aku berpapasan dengan si anak laki-laki. Dia menyeringai. harusnya aku takut, tapi kalut menguasai batinku. Aku segera lari melewatinya.
"Bukan waktunya bermain!" ujarku singkat, entah dia mengerti atau tidak. Aku segera menemui saudaraku yang sedang bersantai di dapur.
"Hei, kau tahu! nanti siang kita dibuang! Ke jalanan," kataku panik. Saudaraku yang wanita menangis.
"Aku tidak mau merasakan jalanan lagi," katanya di sela isaknya. Tak beberapa lama seseorang menggiring kami masuk ke mobil. Kami berempat.
Aku tidak tahan lagi tapi masih tidak bisa berbicara. Pria jahat bodoh itu membawa kami ke suatu tempat, jelasnya jauh dari rumah. Sementara si wanita tampak sedikit sedih. Kami menunggu dengan tegang.
Kami merasakan sesuatu mendorong kami semua turun dari mobil. Setelah itu, pintu mobil ditutup. Bersamaan dengan itu aku memandang mata wanita yang sepertinya sedikit berkaca-kaca. Harapanku hancur. Ketiga saudaraku masih terdiam.
Aku hanya bisa mengeong hampa.
____________________________
Selesai. Tolong dengan sanagt jangan ngejiplak dan jangan dicopy. Bilang dulu sama gue. Ini--ini buat something-something yang penting buat gue dan makanya mohon jangan dijiplak. I beg of you please not to copying this text! thanks.
Umm, hello there. Welcome to my site. PLEASE do NOT copy-paste ANYTHING in this site to yours, except only for your private archive. Please let me know if you'd like to copy anything from my blog.