| entries | profile | affiliates | tagboard | plugboard | site |
Di balik secangkir kopi
Saturday, 27 June 2009


Aku hanya menatap kosong pada secangkir kopi di depanku. Bukan kebiasaanku meminum kopi malam-malam. Aku melirik ke arah jam dinding warna baby pink yang tergantung di atas meja riasku. Sudah jam sembilan malam, tapi matahari masih menyinari kota ini. Memang setiap musim panas, matahari akan menyinari kota ini sampai sekitar jam sepuluh malam.

Aku mengalihkan pandanganku dari cangkir kopi yang masih penuh ke luar jendela. Masih banyak orang-orang yang berlalu lalang dengan cepat. Sepertinya masih banyak yang masih memiliki urusan untuk diselesaikan.

Matahari mulai tenggelam di ujung sana. Aku hanya memandang kosong ke arah cakrawala. Sebentar lagi matahari akan pindah ke belahan dunia lain. Menyinarinya dengan cahayanya yang tak pernah padam. Aku hanya bisa menatap dingin sambil sedikit menyipitkan mataku. Mataku minusnya cukup tinggi, jadi tidak bisa lama-lama menatap matahari.

Pandanganku mengiringi matahari hari itu terbenam.

Aku mengalihkan pandanganku dari jendela ke arah meja teh yang diletakkan di sebelah sofa yang nyaman. Secangkir kopi itu belum lagi kusentuh. Aku sudah membuatnya sekitar setengah jam yang lalu, saat batinku masih kalut karena masalah itu. Tadi aku berpikir, mungkin secangkir kopi bisa membuatku tenang. Namun aku malah tidak meminumnya.

Aku mengambil satu buku dari rak yang ada di sebelah sofaku. Aku tidak membaca judulnya dan langsung membukanya. Namun, anehnya, aku tidak mengenali kata-kata dan bahasanya. Padahal sudah setahun aku tinggal di Jerman. Harusnya aku sudah akrab dengan bahasa Jerman. Entah bagaimana, kali itu pikiranku kosong.

Jujur, sebenarnya aku masih terluka dengan kata-katanya yang tajam menusukku. Angin saat itu berhembus sangat dingin. Dramatis mengiringi kaat-kata terakhirnya yang menusuk.

"Tolong jangan menemuiku lagi selamanya,"

Aku terkejut saat itu. Bagaimana bisa aku melakukannya? Maksudku, dia sudah kuanggap kakakku sendiri. Dia itu seseorang yang pertama kali menolongku bahkan saat aku baru sampai di Jerman.

"Hey, das ist mein, das ist ihre," sapa seseorang dari belakangku. Aku hanya mengerutkan kening. Ia bicara terlalu cerpat dan aku belum sepenuhnya menguasai bahasa Jerman.

"Ah, sorry, Mister. I didn't get it," kataku padanya. Ia jadi paham permasalahannya dan mengangguk.

"Ah, then you must be a new comer here. Sorry if I was confusing you," katanya dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah lucu. Aku menahan senyum.

Laki-laki yang menyapaku tadi umurnya sepertinya masih sepantaran denganku. Tinggiku dengannya hanya beda beberapa senti saja. Dia tampak bingung, lucu sekali.

"It's okay. By the way, is this your bag?" Kataku padanya. Ia sepertinya jadi teringat apa alasannya menghampiriku.

"Okay, thanks Miss. By the way, can I go with you, search for taxi?" katanya. Aku tersenyum mendengar banyak grammar yang salah. Namun tak apa, setidaknya aku mengerti maksudnya.

"Okay," kataku. Lalu kami berjalan mencari taksi.

"By the way, what is your name?" tanyanya memecah keheningan yang sempat terjadi di antara kami.

"Naya, Naya Avelind," kataku.

"Ah, I see. My name is Tom, Thomas. You can call me Tom if you'd like to," katanya. Aku tersenyum. Belum pernah kutemui orang yang seramah ini.

Singkat cerita, kami akhirnya berteman untuk waktu yang lama. Aku sudah menganggap dia kakakku, yeah, setelah aku tahu ternyata umurnya 21 tahun, beda dua tahun denganku. Kami suka kadang hanya mengobrol saat minum teh di rumahnya, atau di rumah sepupuku yang kutempati sekarang, atau kadang kami keluar untuk menikmati teh di cafe.

Satu yang aku baru tahu, ternyata dia memiliki masalah. Aku tidak bisa memberitahumu masalahnya, yang jelas masalah itu berat, berat sekali. Dia pernah menangis di pundakku saat aku menanyakannya. Masalah ini, yang aku bahkan tidak berani membayangkannya.

Sampai satu hari, dia harus kembali ke negara asalnya. Dia tidak tahan lagi berada di Jerman. Aku berusaha menguatkannya namun sia-sia. Aku tidak mampu lagi, jadi aku hanya bisa merelakannya. Tapi, aku tidak bisa melupakannya selamanya! Aku tidak bisa! Aku sudah mengenalnya selama setahun! Aku tidak bisa melupakannya.


Pandanganku buyar. Ada yang memanggilku diluar sana! Seperti...suara yang kukenal baik. Aku melongok dari jendela, mencoba melihat pintu.

Aku bergegas turun dari lantai dua. Namun, sejenak kuteguk kopi dari cangkir yang kubuat tadi. Aku terbatuk sedikit saat ada sisa ampas kopi yang masuk ke tenggorokanku. Seingatku, aku sudah menyaring semua ampasnya. Aku melihat kopi dalam cangkir itu secara ajaib setelah kuletakkan di atas meja bergolak sedikit lalu diam. Lalu aku seperti merasakan angin yang--entah bagaimana, aku juga tidak tahu--berisi suara tawa yang tidak asing. Namun aku mengabaikannya dan langsung menuju ke bawah dan menyambar mantel yang tergantung. Aku membuka pintu.

Ternyata ada kakaknya Tom yang datang. Ia sepertinya baru pulang dari sebuah acara resmi. Terlihat dari pakaiannya yang sangat formal. Aku segera turun. Mungkin saja ada kabar dari Tom.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Setelah aku membuka pintu yang kutemui bukan wajah tersenyum, melainkan mata sembab. Aku penasaran, dan ia menyodorkan dua lembar telegram ke tanganku sambil melangkah pergi. Setelah membaca telegram itu, lututku serasa lemas tanpa tulang. Aku jatuh terduduk. Dan mendadak pandanganku berkunang-kunang.

Lalu gelap.

Tidak tahan lagi. Aku mau pergi jauh, ke surga andaikan bisa. Tolong sampaikan pada Naya Avelind telegram yang datang bersama ini.

Naya, maafkan aku. Aku tidak tahan lagi, harus pergi jauh. Ke surga, andai bisa. Aku akan menunggumu di sana. Jangan sedih, kita akan ketemu lagi. Ich liebe dich, Naya. Ich liebe dich für immer.


12:29 | back to top

Disclaimer


Umm, hello there. Welcome to my site. PLEASE do NOT copy-paste ANYTHING in this site to yours, except only for your private archive. Please let me know if you'd like to copy anything from my blog.

Rewind