"Ini....," Livintha masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gedung besar di tengah-tengah keramaian Diagon Alley. Hah. Ibu dan ayahnya tampak sangat bersemangat memasuki gedung itu.
Kreeeeeek....
Dengan gerakan perlahan ayahnya Livintha membuka pintu yang besar itu dan menarik istri beserta anaknya masuk ke dalam padahal Livintha sangat penasaran dengan tulisan yang tertera di pintu itu. Sepertinya tulisan itu bukan sekedar selamat datang. Ya sudahlah, toh ayah dan ibunya sudah pernah ke sini, jadi pastilah mereka tahu peraturannya.
"What the hell...," Livintha memaki pelan, takut terdengar ibu dan ayahnya yang masih tampak sumringah. Pemandangan itu sungguh sangat mengejutkan gadis itu. Barisan makhluk pendek bertelinga panjang duduk--atau berdiri?--di belakang sebuah meja kecil sepanjang jajaran pintu besar tadi.
"Mum, itu makhluk apa?" tanya Livintha polos. Sungguh, seumur hidupnya baru sekali ini dia melihat makhluk seaneh ini! Mrs. Avelind hanya tersenyum mendengar pertanyaan polos anaknya.
"Itu goblin, Princess. Hati-hati, temperamen mereka buruk," bisik Mrs. Avelind sebagai balasannya. Livintha malah makin penasaran, ternyata goblin itu benar-benar ada. Namun mendengar temperamen mereka buruk, gadis itu langsung menutup mulut.
Mereka sampai di meja paling besar di antara semua meja di sana. Yang menjaga meja tersebut ternyata juga seekor--atau seorang ya?--goblin.
"Saya ingin mengambil 300 galleon atas nama keluarga Avelind. Terima kasih," kata Mr. Avelind. Lalu ia tersenyum seraya meletakkan kunci emas di atas meja tersebut.
Emas? Ya ampun, dunia sihir ternyata kaya sekali, batin Livintha. Kunci saja dari emas.
"Ini....," Livintha masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gedung besar di tengah-tengah keramaian Diagon Alley. Hah. Ibu dan ayahnya tampak sangat bersemangat memasuki gedung itu.
Kreeeeeek....
Dengan gerakan perlahan ayahnya Livintha membuka pintu yang besar itu dan menarik istri beserta anaknya masuk ke dalam padahal Livintha sangat penasaran dengan tulisan yang tertera di pintu itu. Sepertinya tulisan itu bukan sekedar selamat datang. Ya sudahlah, toh ayah dan ibunya sudah pernah ke sini, jadi pastilah mereka tahu peraturannya.
"What the hell...," Livintha memaki pelan, takut terdengar ibu dan ayahnya yang masih tampak sumringah. Pemandangan itu sungguh sangat mengejutkan gadis itu. Barisan makhluk pendek bertelinga panjang duduk--atau berdiri?--di belakang sebuah meja kecil sepanjang jajaran pintu besar tadi.
"Mum, itu makhluk apa?" tanya Livintha polos. Sungguh, seumur hidupnya baru sekali ini dia melihat makhluk seaneh ini! Mrs. Avelind hanya tersenyum mendengar pertanyaan polos anaknya.
"Itu goblin, Princess. Hati-hati, temperamen mereka buruk," bisik Mrs. Avelind sebagai balasannya. Livintha malah makin penasaran, ternyata goblin itu benar-benar ada. Namun mendengar temperamen mereka buruk, gadis itu langsung menutup mulut.
Mereka sampai di meja paling besar di antara semua meja di sana. Yang menjaga meja tersebut ternyata juga seekor--atau seorang ya?--goblin.
"Saya ingin mengambil 300 galleon atas nama keluarga Avelind. Terima kasih," kata Mr. Avelind. Lalu ia tersenyum seraya meletakkan kunci emas di atas meja tersebut.
Emas? Ya ampun, dunia sihir ternyata kaya sekali, batin Livintha. Kunci saja dari emas.
Umm, hello there. Welcome to my site. PLEASE do NOT copy-paste ANYTHING in this site to yours, except only for your private archive. Please let me know if you'd like to copy anything from my blog.